Selain menikmati
musik, berbagi musik itu sendiri merupakan kenikmatan tersendiri. Namun,
rasanya ada yang kurang dan tidak adil, karena beberapa karya terbaik
tahun ini tak selalu berwujud dalam bentuk album. Kadang ada lagu yang
luar bisa keren namun berada dalam album yang biasa-biasa saja, atau
mungkin dalam kompilasi / mixtape yang isinya beragam (mulai dari lagu
generik hingga yang
masterpiece), atau bahkan ada yang dirilis
sebagai single lepas atau format 7″ vinyl yang berisi hanya 2 lagu saja.
Atas alasan sederhana itulah saya memutuskan untuk membuat tulisan
pendamping ini sebagai pelengkap. Tak ada alasan khusus dibalik jumlah
lagu yang 13 biji ini. Kebetulan saja saat mencek ‘the most played’ di
mp3 player saya, keluar 13 lagu dengan jumlah rotasi putar yang sama.
Untuk pertama kalinya pula saya memakai link Soundcloud atas saran
seorang kawan. Dan nampaknya cukup berguna, dibanding harus meng-upload
kumpulan mp3 ke situs file-sharing, plus juga kalian bisa mendengarnya
langsung saat membaca resensi ini. Enjoy.
“Black Swan” – Statik Selektah feat. Nitty Scott MC & Rapsody

Sejak
“They Reminisce Over You”
dirilis nyaris dua puluh tahun silam, saya selalu jatuh cinta pada
track hiphop dengan formula yang dipakai Pete Rock & CL Smooth dalam
track itu; hook cantik sederhana, diberi ornamen seperlunya lalu
ditimpah
scratch chorus dan beat boombap paten yang bisa membuat leher kalian pegal ber-
nodding ribuan kali, terlebih dengan snare ala
‘Funky Drummer’. Lagu ini dibangun dengan formula tadi, diambil dari album
“Population Control”
milik Statik Selektah, salah satu beatmaker anyar pewaris sound era
keemasan hiphop 90an yang cukup banyak bermunculan belakangan. Seperti
album DJ/Produser lainnya, Statik mengundang lusinan MC untuk ngerap di
setiap lagu berbeda. Dalam
‘Black Swan’ ini ia mengundang 2 MC cewe, dan salah satunya adalah
Nitty Scott MC, salah satu
female MC
yang tak hanya seksi dan cakep tapi juga paling ganas hari ini,
meneruskan obor mikropon dengan liar sekaligus elegan yang dulu dipegang
MC Lyte dan Jean Grae. Jika tak percaya,
silahkan liat video ini dimana Nitty ngerap puluhan bar dengan sangat impresifnya.
Its been a while since the last time we saw female MC spit venom like that.
Sejak pertama kali mendengar lagu ini, saya tak bisa tak mendengarnya
sehari saja. Memutarnya pagi hari sebelum mengantar anak ke sekolah,
dapat men-set mood sepanjang hari. Jika kalian memerlukan contoh betapa
luar biasa kesederhanaan beat hiphop silahkan cek lagu ini.
A perfect beautiful song. Great job Mr. Statik.
“Occupation Freedom” – Ground Zero of the Global Block Collective

Saat gerakan
Occupy Wall Street
dimulai, saya yakin akan lahir lagu anthem dari rapper-rapper NY di
momen itu yang akan memberi warna gerakan dan menginspirasi lainnya
untuk bergabung disana. Hanya saja saya tidak menyangka ia berwujud
dalam bentuk track
laid-back seperti ini.
I mean thats really a good thing,
karena biasanya lagu protes umumnya berbentuk lagu dengan mood
marah-marah dan garang. Ketika kalian mendapatkan lagu empowerment
dengan mood ala Digable Planets seperti ini, dengan lirik
”i take money from the rich and invest it in the poor/ its been a long way coming its time settle the score”
serta beat yang berakar dari karya-karya Pete Rock seperti ini, serasa
memberi nuansa baru dan tentunya imajinasi baru dalam melihat fenomena
gerakan okupasi global yang marak belakangan. Saya baru mendengar nama
Ground Zero of the Global Block Collective, baik sebagai grup maupun dua MC yang cukup aduhai dalam lagu ini;
Rithm dan
Sylar. Yang
terakhir disebut adalah MC cewe dengan suara dan flow mirip Anggie
Martinez, MC 90-an akhir yang dulu sempat berkolaborasi dengan KRS-One.
Cek juga
video lagu ini yang dibuatkan oleh
Grounded TV,
sebuah kolektif media yang membuat liputan khusus soal OWS dimana
mereka mengundang Naomi Klein, Tom Morello dan lainnya memberikan
testimoni seputar gerakan ini.
Important song for important moment.
“Elephants“ – Hassaan Mackey & Apollo Brown

Sulit
mendeskripsikan bagaimana saya begitu menyukai The Left, namun ada satu
alasan kuat mengapa grup anyar ini menjadi salah satu grup favorit saya
di era 2010-an ini;
Apollo Brown. Ia adalah mastermind
dari musik mereka, seorang produser muda yang terinspirasi kuat oleh
dua figur penting dalam hiphop beatmaking; DJ Premier dan J-Dilla.
Apapun proyek yang dia buat (dari album solo hingga kolaborasi) tak ada
yang tak menarik. Termasuk proyek bersama alumnus Rawkus 90-an,
Hasaan Mackey,
ini. Tetap dengan formula yang sama: chop sample dari rekaman soul era
Motown 60-an, simpan di beragam pad berbeda di MPC dan bermain-main
disitu sebelum kemudian ditimpah beat khas east coast (ehm, NY tepatnya)
menghasilkan komposisi khas yang setengah Dilla, setengah Primo. Hampir
di setiap album yang ia buat, selalu ada track adiktif yang membuat
kalian kecanduan untuk mendengarnya berulang-ulang . Track ini
contohnya. Bercerita tentang pergulatan eksistensi di sebuah era dimana
resesi menjenguk dan pengangguran menjadi hal yang lumrah. Berujung pada
cerita klasik dimana kemiskinan adalah akar dari semua neraka.
These kinda song we need right now; socially conscious, artistically phat.
“Ghetto Dreams“ – Common featuring Nas
“The Dreamer, The Believer”
merupakan album baru Common yang baru saja dirilis minggu kemarin. Saya
belum mendengar secara keseluruhan album ini. Mungkin karena kekecewaan
bertubi terhadap album-albumnya era akhir 2000-an yang payah, tak
sebanding dengan nama besarnya. Namun nampaknya besok-besok saya harus
mendengarnya secara serius, karena single duetnya dengan
Nas
di lagu ini mengirim sinyal berbahaya. Sudah lama sekali rasanya
menunggu kolabo dua MC besar dengan output memuaskan seperti ini. Coba
perhatikan flow Nas di verse terakhir lagu ini, setelah
single bocoran
untuk album barunya bulan kemarin, nampaknya pula album Nas mendatang
akan menjadi salah satu poin di catatan layak tunggu tahun 2012.
Cmon Mr. Jones, we been waiting for Illmatic ressurection for fukkin light years!!
“Scarface (3:33 Remix)“ – Roc Marciano

Sebenernya ‘
Scarface‘ bukan lagu baru. Diambil dari debut seminal Roc Marciano
“Marcberg” yang
dirilis tahun 2010, lagu ini diremix ulang oleh sebuah kolektif (atau
entah seorang?) produser bernama 3:33, dan dirilis dalam bentuk 7″ vinyl
bersamaan dengan remix MF Doom di pertengahan tahun ini. Dengan hook
creepy sederhana berulang dan beat gempor berkekuatan merusak speaker, ‘
Scarface‘ terdengar sangat berbeda tanpa melenyapkan aura
murda muzik
ala Mobb Deep yang diusung Roc sejak ia masih berkutat di camp nya
Busta Rhymes. Dari single ini pula saya menelusuri lebih banyak perihal
siapakah 3:33 ini, dan menemukan fakta bahwa ia/mereka adalah produser
jahanam yang membangkitkan
breakbeat neraka se-level Dalek
dengan aura kebrisikan Nine Inch Nails. Lain waktu kalo mood sedang
bersahabat, saya akan sharing lebih banyak tentang mereka.
“Ronald Reagan Era” – Kendrick Lamar

Dari album bertitel
“Section 80″ yang membuat nama Kendrick Lamar meroket dan
dinobatkan oleh Snoop Dogg dan Dr.Dre sebagai penerus kejayaan Compton,
lagu ini merupakan salah satu contoh mengapa Lamar layak mendapatkan
obor dari para ikon West Coast. Keluar dari tipikal G-Funk namun tetap
bersuara lantang merepresentasikan Compton sebagai tanah kelahiran para
pendobrak dominasi East Coast dalam sejarah hiphop sejak NWA merilis
“Straight Outta Compton”. Yang diluar perkiraan saya adalah faktor pemilihan beat yang sama sekali keluar dari tipikal
laid-back pasca
“The Chronic”
yang selama ini mendominasi album-album rapper West Coast. Dengan flow
yang nyerempet The Parchyde, Lamar bercerita tentang era ia dimana ia
lahir dan besar di Amerika era Ronald Reagan. mengilustrasikan Compton
era itu dengan detil-detil nostaljik diadopsi pada kenyataan kehidupan (
“I tell you mothafuckers that life is full of hydraulics/ Up and down, get 64 better know how to drive it”), diakhiri kesimpulan miris tentang bagaimana bertahan hidup di Compton:
“When you fight, don’t fight fair, Cause you’ll never win”. Lamar
nampaknya baru saja dibebani tanggungan berat untuk meneruskan
kecemerlangan album debutnya dengan prestasi yang sama di album-album
selanjutnya.
“Outstanding” – Tragedy Khadafi

Veteran
karismatik dan arsitek sound hiphop ala Queensbridge NY, Tragedy
Khadafi meneruskan tradisi mixtape Thug Matrix nya sampe ke album no.3.
Cukup lumayan, bahkan cukup mengagumkan untuk sebuah mixtape. Namun ada
sebuah lagu yang outstanding di album itu yang tepat sekali diberi judul
‘Outstanding’,
diproduseri seorang beatmaker yang baru saya dengar namanya; Audible
Doctor, track ini bersuara seolah hasil sumbangan Apollo Brown, tentu
saja lengkap dengan chop sample suara vokal soulful dan
bluesy feel ala The Left. Berdurasi hanya satu menit 57 detik, Trag menyambat satu verse 24 bar dengan flow luar biasa.
“The Recipe” – Apathy feat. Xzibit

Jika lagu seperti ini dibuat dalam jumlah satu album, kemungkinan besar Apathy menghasilkan
“Nineteen Ninety Now” versi West Coast.
Beatmaker Stu Bangas melakukan pekerjaannya dengan cantik, betapa tidak; sound efek futuristik, snare dan hihat dari kit
drum machine Rolland 80-an ala musik Breakdance,
chorus yang di-
scratch “yea and you dont quit”
khas Snoop Dogg, dibungkus dengan synthe ala G-Funk. Tentu akan
berakhir menjadi instrumental keren tak berguna jika saja Apathy dan
Xzibit tidak mendemonstrasikan kehebatan mereka menjadi duet maut
bertukar rima dengan kerumitan akronim-akronim dan metafor braggadocio
terbaik tahun ini. Xzibit dalam track ini seolah merehabilitasi namanya
yang semakin mengendur gara-gara kebanyakan meng-host MTV dibanding
membuat rima keren. Dengan suara berat, ruff khas yang membuatnya
terkenal, X membantai;
“Put out an APB on Mr. X to the Z/ Grew up on
NWA and the DOC / I can’t sing or play guitar like the BOB / But I can
put you underground with this.223″, disambut Apathy dengan rima
throwback “I love OPP, I got OCD / Word life, I got OC’s old CD / I miss ODB, fuck the FCC / I miss Fab Five Freddy on MTV”. Sempurna.
“Terror Death Camp” – Statik Selektah & Action Bronson featuring Meyham Lauren, Maffew Rogazino & AG Da Coroner

Fukkkkkk!!!
This is the Posse Cut of The Year!!!! Berakar dari tradisi mengeroyok
breakbeat dengan multi MC di era Main Source merilis
“Live at The Barbeque”,
lagu ini luar biasa adiktif. Jika saja berbentuk kaset, tentu nasibnya
sudah seperti kaset NWA saya yang mendem, kusut di bagian lagu tertentu
akibat diulang-ulang ratusan kali. Diambil dari album kolaborasi Statik
Selektah (yang perihalnya sudah saya jelaskan di track pertama) dengan
MC paling panas dan paling sibuk tahun ini; Action Bronson. Kali ini
mengundang rekan-rekan satu tangkringan di
The Outdoorsmen. Kecuali
Meyham Lauren, dua MC lain
Maffew Rogazino dan
AG Da Coroner
baru saya dengar pertama kali di track ini dan membuat saya
berkesimpulan cenayang; atas nama arwah ODB diperkirakan mereka akan
menjadi Wu-Tang nya era 2000-belasan ini. Empat MC ini bergantian
memperkosa track Statik Selektah yang kali ini tak hanya terdengar
soulful namun juga mengkomposisi beat yang mengalir lebih deras dari
aliran bandang Bandung Barat yang keropos digas kontraktor pembangun
lapangan golf!. Klik langsung, klikkkk player Soundcloud diatas!
“Fast Lane” – Bad Meets Evil
Eminem
did it again. Berkali kali ia memaksa para hiphopheads untuk memberinya
hormat pada skill-nya meski seburuk apapun beat yang ia pakai untuk
ngerap! Bad Meets Evil adalah proyek kolaborasi bersama partnernya
sebelum ia tenar,
Royce 5’9″. Bubar saat Em mulai
menanjak karirnya, lalu di-resureksi tahun 2011 ini saat Royce dan
Eminem berdamai setelah menahun bermusuhan. Hasilnya? seperti yang
dibayangkan, salah dua MC terdahsyat di era ini bergabung menghasilkan
se-album penuh lagu dengan punchline dan kecepatan flow yang hampir tak
ada tandingannya. Track ini sendiri sebenarnya track ala club lengkap
dengan string buatan keyboard, beat
akward dan tentu saja tak terlewatkan shout
“heyyyyyyyy…” pada
chorus-nya.
Nyaris tak ada seni sampling menyampling dilibatkan. Meski demikian, MC
manapun akan mangap dengan air liur menetes mendengar dua MC ini
bersahutan, mencabik bar demi bar, fast and furious. Cukup membuat saya
mengulang-ngulang memasang
looping mode satu lagu dalam mp3 player selama beberapa minggu.
“Animal Kingdom” – Trem

Dari
Melbourne, Australia, Trem menyerang tanah Mekahnya Hiphop, NY, dengan
album yang berfondasi pada blueprint yang dibuat Mobb Deep dan scene
Queensbridge pasca
“The Infamous”. Diatas beat monoton, loop
monoton yang dramatis (biasanya dibangun lewat sampling notes piano
sederhana), dengan aksen inggris ala Australia yang cukup aneh, Trem
menebar lusinan cerita tentang sudut-sudut kota yang membesarkannya
dengan aroma spraycan, 808, beat boombap, kematian teman, seringai
kemiskinan dan bermuara pada album yang bikin nyandu setengah mampus.
Bagi yang kangen Mobb Deep era “Shook Ones Part II” silahkan klik player
Soundclick diatas dan cari album sang maestro tanah kangguru;
“The Term Of His Natural Life”.
“Toast to The Dead” – Immortal Technique

Lagu yang
immortal
adalah lagu yang kalian jatuh cinta saat pertama kali mendengarnya,
menggerus perasaan saat mendengar beberapa detik pertama bagian lagu itu
dan membawa kesadaran pada makna-makna potongan liriknya di detik
selanjutnya, menyimpan energi tersembunyi yang kalian tabung dan dibuka
ketika keadaan membutuhkan. Diambil dari album mixtape Immortal
Technique teranyar,
“The Martyr”, lagu ini bisa sangat jadi salah satu contohnya. Dengan track pemberian
J-Dilla
sebelum ia wafat, Immortal Technique kali ini menghasilkan track yang
diluar kebiasaan, begitu personal meski bertaburan disana-sini potongan
kalimat yang cukup kuat untuk dijadikan manifesto politik.
‘Toast to The Dead’
seharfiah judulnya, merupakan lagu tribut Tech bagi rekan, inspirator,
pendahulu, kamerad seperjuangan bahkan musuhnya yang sudah mendahului.
Namun bukan Immortal Technique jika hanya bikin rima biasa-biasa, ia
memperpanjang makna tribut menjadi sebuah lagu hymne bagi sejarah
kemanusiaan. Selain memberi tribut bagi arwah Roc Raida, J-Dilla dan
Eyedea saat bertutur
“A toast to the dead for rap legends and pioneers/ Your legacy won’t be forsaken as long as I am here”, dan bagi para pejuang
“For the freedom fighters killed by the feds/ For those who died hard in the streets soaking in red”, Tech pula berujar
“Here’s a toast to the dead for my enemies that are gone/ I’m not a coward so, celebrating that would be wrong”. Dari
bar ke bar, Ia berusaha menjelaskan makna hidup tak hanya lewat mereka
yang sudah wafat, namun fenomena luarbiasa yang menyadarkan kita alasan
terpenting mengapa kita harus menyelamatkan kehidupan
; “…some of you, won’t survive the changes the earth makes/ Swallowed by tsunamis, hurricanes and earthquakes”, meski
pada akhirnya kita semua pasti mati. Seklise itu namun lagu ini begitu
menghanyutkan lewat kepiawaian Tech meramu silabel dan pantun. Lagu
ditutup dengan Tech berbisik singkat namun mengejutkan;
“My last
toast to the dead is for the listener/ Human being or extraterrestrial
visitor / Remember us for more than our primitive ways/ When you study
us long after the end of our days”. Seolah ia membuat lagu yang
akan bertahan hingga akhir zaman, pasca apokalips dan seseorang (atau
mahluk angkasa luar) menemukan lagu ini diantara reruntuhan untuk
kemudian dijadikan studi mempelajari sejarah manusia, dimana manusia
-sebrengsek apapun sejarah buktikan- memiliki sisi yang harus diingat
saat kita berbudaya sebagai manusia. Shit is deep. Gali sumur. Lagu ini
dibuat almarhum Dilla dengan fondasi sample dari musik yang dibuat
Vangelis untuk acara karya Carl Sagan
‘The Cosmos’, sebuah seri
televisi yang menyampaikan pesan soal alam semesta dan kosmos mirip
National Geographic dengan sentuhan filosofi. Entah kenapa, serasa klop.
“Stomp” – The Roots

Ini satu-satunya lagu yang tak bisa saya upload ke Soundcloud karena alasan hak cipta, berusaha mencari
link nya kemana-mana pun tak dapat. Bahkan di Youtube sekalipun hanya menemukan video
trailer-nya
seperti diatas. Namun bagaimanapun saya tak ingin melenyapkan fakta
bahwa ini salah satu lagu terbaik dari salah satu album terbaik tahun
ini;
“Undun”. Album ke-13 milik The Roots ini merupakan album
konsep yang berkisah tentang kisah kehidupan seseorang bernama Redford
Stephens yang memiliki jalan hidup berbalik dengan Malcolm X, dari yang
sadar akan pentingnya kehidupan dan berjuang untuk keadilan sosial
berubah menjadi seorang penjahat jalanan, dan berakhir tragis.
“Stomp”
berada pada tracklist tengah album, pada titik dimana kisah Redford
sedang buas-buasnya. Black Thought mendeskripsikan secara puitis
bagaimana sang tokoh Redford memutuskan apa yang harus dilakukan ketika
keadaan bertahan hidup memaksanya dan lingkungan yang ada (kemiskinan)
tak memberikan peluang dan kesempatan untuk berbuat sebaliknya;
“It reads like a final letter I’m leaving for my fam but/ It’s written in language they will never understand”, diatas chord gitar dan beat sederhana namun cukup kuat untuk membuat satu ruangan ber-
headnodding ria. Saya baru mendapatkan Undun seminggu yang lalu, namun tak perlu waktu lama bagi saya untuk menyimpulkan bahwa
‘Stomp’ adalah klasik instan tanpa harus banyak dijelaskan. Oke, cari
“Undun” sekarang juga.